Senin, 22 September 2014

Makalah Psikologi pendidikan "Ingatan dan Berpikir"



BAB 1
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Ingatan atau sering disebut memory adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Ingatan akan dipelajari lebih mendalam di psikologi dan ilmu saraf. Ingatan juga dipandang sebagai suatu hubungan antara pengalaman dengan masa lampau. Apa yang telah diingat adalah hal yang pernah dialami, pernah dipersepsinya, dan hal tersebut pernah dimasukan kedalam jiwanyadan disimpan kemudian pada suatu waktu kejadian itu ditimbulkan kembali dalam kesadaran.
Mengenai soal berfikir  ini terdapat beberapa pendapat ,diantaranya ada yang menganggap sebagai suatu proses asosiasi saja ;pandangan semacam ini dikemukakan oleh kaum asosiasionist.sedangkan fungsionalist memandang berfikir sebagai suatu proses penguatan hubungan antara stimulus dan respon .diantaranya ada yang mengemukakan bahwa berfikir merupakan suatu  kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara dua objek atau lebih.secara sederhana, berfikir adalah memproses informasi secara mental atau secara kognitif.
1.2  Tujuan
Setelah mempelajari mengenai ingatan dan berfikir ini, kita semua diharapkan dapat memahami cara dan pola berfikir masing-masing individu yang memiliki perbedaan. Serta keduanya memiliki keterkaitan dan tak bisa dipisahkan(saling berhubungan). Serta tau apa itu ingatan ? apa yang dimaksud dengan berfikir ? serta dapat membedakan keduannya.



1.3 Indikator
A. Apa yang di maksud dengan pengertian Ingatan.
B. Apa yang di maksud dengan pengertian Berfikir.
C. Macam-macam ingatan,proses pembentukan ingatan dan fungsi ingatan.
D. Jenis, tipe, pola, dan proses berfikir.














BAB II
Pembahasan 1
2.I Pengertian Ingatan
            Secara teori  dapat kita bedakan adanya tiga aspek dalam berfungsinya ingatan yaitu :
a.   Mencamkan, yaitu menerima kesan-kesan
b.   Menyimpan kesan-kesan
c.   Mereproduksi kesan-kesan
Jadi definisi ingatan adalah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan.
ü  Sifat-sifat ingatan :
a.  Ingatan cepat, mudah dalam mencamkan sesuatu hal tanpa menjumpai kesukaran
b.  Ingatan setia, apa yang telah diterima akan disimpan sebaik-baiknya, tak berubah, tetap cocok dengan waktu menerimanya.
c.  Ingatan teguh, dapat menyimpan kesan dalam waktu yang lama, tidak mudah lupa.
d.   Ingatan luas, dapat menyimpan banyak kesan-kesan.
e.   Ingatan siap, mudah dapat memproduuksi kesan yang telah disimpannya.

2.2 Mencamkan

ü  Dibedakan menjadi dua yaitu :
a.  Sekehendak, artinya mencamkan dengan disengaja dan dikehehndaki, dengan sadar  sungguh-sungguh mencamkan sesuatu. Aktifitas ini biasanya disebut menghafal.
b.  Tidak sekehendak, artinya tidak dikehendaki, tidak disengaja, memperoleh sesuatu pengetahuan.


ü  Hal-hal yang membantu dalam pencaman :
a.  Menyuarakan pencaman. Pencaman bahan akan lebih berhasil apabiala berhasil apabila individu tidak saja membaca bahan pelajaran, tetapi juga menyuarakan dan mengulang-ulangnya.  
b.  Pembagian waktu belajar yang tepat menambah pencaman, dari pada belajar secara borongan yang sangat tidak baik.
c.  Penggunaan metode belajar yang tepat dapat mempertinggi pencaman. Ada 3 cara metode belajar yaitu :
ü  Metode keseluruhan atau metode G (Ganzlern-methode), yaitu metode menghafal adi awal ssampai akhir dan mengulangnya secara berkali-kali.
ü  Metode bagian atau metode T (Teillernmethode), yaitu metode menghafal sebagian demi sebagian. Masing-masing bagian dihafal secara bertahap.
ü  Metode campuran atau metode V (Vermittelendelern-methode), yaitu metode menghafal bagian-bagian yang sukar terlebih dahulu, selanjutnya dipelajari dengan metode keseluruhan.
 2.3 Menginggat dan Lupa
Meningat dan lupa biasanya juga ditunjukkan dengan satu pengertian saja yaitu retesi, karena kedua hal tersebut hanyalah memandang hal yang satu dan sama dari segi yang berlainan. Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan, dan hal yang dilupakan adalah hal yang tidak di ingat.
Interfensi adalah menjadi lebih sukarnya belajar yang disebabkan oleh hambatan bahan yang telah dipelajari lebih dulu (interfensi asosiatif).

2.4 Reproduksi
Reproduksi adalah pengaktifan kembali hal yang telah dicamkan. Ada dua bentuk yaitu :
a.  Meningat kembali (recall)
b.  Mengenal kembali (recognition)


ü  Adapun beda antara recall dan recognition ialah :
a.  Pada mengingat kembali tak ada objek yang dapat dipakai sebagai tumpuan dalam melakukan reproduksi itu, misal kehilangan sepeda lalu ditanya cirinya. bagaimana ciri sepeda yang hilang itu ? Disini tanpa pertolongan berusaha untuk mengingat kembali.
b.  Pada mengenal kembali ada suatu yang dapat dipakai sebagai tumpuan dalam melakukan reproduksi itu sebagai objek untuk mencocokkan.

2.5 Asosiasi
Adalah hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lainnya dalam jiwa.
* Hukum asosiasi :
a.  Sama saat atau serentak, beberapa tanggapan yang dialami dalam waktu bersamaan cenderung berasosiasi antara satu dengan yang lain. Misal bentuk dengan bendanya, baunya.
b.  Berurutan, beberapa tanggapan yang dialami berturut-turut, cenderung berasosiasi satu dengan yang lain. Misal kita dengar orang mengucap ABCD, timbul dalam kesadaran kita EFGH dan selanjutnya.
c.  Kesamaan dan kesesuaian, bebrapa tanggapan yang bersesuaian cenderung berasosiasi satu denagn yang lainnya. Misal, kalau kita melihat potret seseorang, lalu teringata akan orangnya.
d.  Berlawanan, tanggapan yang saling berlawanan akan berasosiasi satu dengan      yang lainnya. Misal, kalau kita saksikan mobil mewah yang berluncuran dijalan, maka kita teringat akan para peminta-minta yang berada di emper toko.
e.  Sebab akibat, tanggapan yang mempunyai hubungan sebab akibat. Misal, waktu hujan lebat sekali kita teringat akan banjir.





2.6 Beberapa Catatan Praktis
            Penyelidikan  psikologis tentang ingatan telah cukup banyak dilakukan oleh para ahli, dan hasilnya banyak yang langsung bersangkut-paut dengan soal belajar. Hasil-hasil yang telah dikemukakan dipergunakan sebaik-baiknya supaya dapat dimanfaatkan secara maksimal.
v Pada waktu menghafal hendaklah diatur, sehingga dapat mencapai hasil maksimal.
v Mereproduksi dapat diperlancar dengan memperkaya atau menyempurnakan bahasa.
v Menginggat dapat diaturlah diatur waktu-waktu untuk belajar sebaik mungkin, sehingga hal-hal yang dipelajari dapat tertanam sebaik-baiknya.
v Setiap individu memiliki kemampuan menginggat yang berbeda-beda, tetapi setiap individu dapat meningkatkan kemampuan menginggatnya dengan pengaturan kondisi yang lebih baik dan menggunakan metode yang tepat.










Pembahasan 2
2.7 Pengertian Berfikir
Berfikir adalah kelangsungan tanggapan dimana subjek yang berfikir pasif.  Menurut plato berfikir adalah berbicara dalam hati. (berfikir adalah aktivitas adeasional). pada pendapat ini dikemukakan dua kenyataan :
a.  Berfikir adalah aktivitas, jadi subjek yang berfikir aktif.
b.  Bahwa aktifitas itu sifatnya ideasional, jadi bukan sensoris dan bukan motoris, walaupun disertai oleh kedua hal itu, berfikir itu menggunakan abstraksi atau “ideas”. Berfikir adalah meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan kita (Bigot. dkk., 1950).
Berfikir adalah proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalan.

2.8 Proses Berpikir
          Proses atau jalannya berpikir itu dibagi menjadi 3 yaitu :
A.      Pembentukan pengertian
Pengertian logis dibentuk melalui empat tingkat yaitu :
v  Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Objek tersebut kita perhatikan satu demi satu. Misal membentuk pengertian manusia, kita menganalisis berdasarkan cirri-cirinya.
v  Membandingkan ciri tersebut untuk menemukan ciri yang sama, dan yang tidak sama.
v  Mengabstrasikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri yang tidak hakiki, menangkap ciri yang hakiki.
B.      Pembentukan pendapat
Adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Subjek adalah pengertian yang diterangkan, sedangkan predikat adalah pengertian yang menerangkan. Misal rumah itu baru, rumah (subjek), baru (predikat). Pendapat dibedakan menjadi tiga :
v  Pendapat afirmatif/positif , yaitu pendapat yang mengayakan, yang secara tegas menyatakan sesuatu. Misal si totok pandai.
v  Pendapat negative, yaitu pendapat yang menidakkan, secara tegas menerangkan tidak adanya sesuatu sifat pada suatu hal. Misal si totok tidak bodoh.
v  Pendapat modalitas/kebarangkalian, yaitu pendapat yang menerangkan kebarangkalian, kemungkinan sifat pada suatu hal. Misal hari ini mungkin hujan.
C.       Penarikan kesimpulan atau pembuatan keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam keputusan yaitu :
v  Keputusan indukatif, yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapt khusus menuju ke satu pendapat umum.
v  Keputusan dedukatif, yaitu keputusan yang ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus.
v  Keputusan analogis, yaitu keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada.

2.10 Beberapa Catatan Praktis
·         Jauh dari sikap ingin mengagung-ngagungkan akal kiranya dapat diterima bahwa pikiran mempunyai kedudukan  yang boleh dikata menentukan. Karena itu kewajiban kita para pendidik mengembangkan aspek-aspek lain daripada anak-anak didik kita untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi perkembangan pola pikir.
·         Bahasa dan pikir adalah demikin erat hubungannya, oleh karena itu perkembanggan bahasa yang baik adalah keharusan yang harus dipenuhi untuk perkembangan pikiran baik.
·         Pengetahuan siap merupakan bakal yang sangat berguna supaya orang dapat berpikir dengan tepat dan cepat.



BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Ingatan adalah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan. Ada Macam-macam ingatan, proses pembentukan ingatan dan fungsi ingatan yang dimiliki oleh setiap individu memiliki kemampuan menginggat yang berbeda-beda, tetapi setiap individu dapat meningkatkan kemampuan menginggatnya dengan pengaturan kondisi yang lebih baik dan menggunakan metode yang tepat. Berpikir adalah aktivitas abstrak, dengan arah yang ditentukan oleh persoalan yang harus dipecahkan. Ada Jenis, tipe, dan pola berfikir, dan proses berfikir yang dimiliki berbagai individu atau pada masing-masing individu, Jauh dari sikap ingin mengagung-ngagungkan akal kiranya dapat diterima bahwa pikiran mempunyai kedudukan  yang boleh dikata menentukan. Karena itu kewajiban kita para pendidik mengembangkan aspek-aspek lain daripada anak-anak didik kita untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi perkembangan pola pikir pada setiap individu.










                                               Daftar Pustaka
Suryabrata, Sumadi.2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta:Rajawali
Wikipedia.Psikologi Pendidikan. http://id.wikipedia.org/wiki/psikologi_pendidikan.Hari kamis tanggal 5 September 2014 jam 01:30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar