Minggu, 21 September 2014

Makalah Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Bimbingan dan konseling mempunyai perananan penting yang meliputi banyak aspek kehidupan baik dalam bidang pendidikan, sebagai seorang pengajar/guru BK maupun menjadi seorang konselor dimasyarakat. Dengan adanya bimbingan dan konseling ini maka akan tecipta keserasian antara seorang guru dengan siswa maupun antara seorang konselor dan individu yang dibantunya. Makalah ini dibuat agar berguna bagi umum yang membaca khususnya bagi para calon konselor muda agar tau dasar-dasar tujuan bimbingan dan konseling itu sendiri, agar kelak dapat menjadi guru BK atupun seorang konselor yang pintar, baik dan dapat diandalkan.
2.1 Tujuan
1.      Tau perubahan perkembangan tujuan bimbingan dan konseling dari masa-kemasa ?
2.      Apa tujuan umum bimbingan dan konseling ?
3.      Apa tujuan khusus bimbingan dan konseling ?






BAB II
PEMBAHASAN
2.1.    Definisi Bimbingan Konseling
1.      Definisi Bimbingan
Menurut Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.




2.      Definisi Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101). Sementara Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien.
 3.      Definisi Bimbingan Konseling (BK)
Bimbingan konseling adalah proses pemberian bantuan melalui wawancara konseling oleh konselor kepada konseli yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga konseli dapat memahami dirinya untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk kesejahteraan hidup.
           





2.2 Sejarah Perkembangan Tujuan Bimbingan dan Konseling
Sejalan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling, maka tujuan layanan bimbingan dan konseling punmengalami perubahan, dari yang sederhana menjadi lebih komperhensif. Perkembangan itu dapat dilihat dari beberapa rumusan  kutipan berikut :
Rumusan 1 (Hamrin & Clifford, dalam Jones, 1951) agar individu dapat :
1.      Membuat pilihan-pilihan.
2.      Membuat penyesuaian-penyesuaian.
3.      Membuat interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu.
Rumusan 2 (Broadshow dalam Mc. Daniel, 1956)
1.      Untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan.
Rumusan 3 (Shoben, dalam Bernard Fullmer, 1969)
1.      Rekontruksi budaya sekolah.
Rumusan 4 (Tiedeman, dalalam Bernard Fullmer, 1969)
1.      Membantu orang/individu agar menjadi insan yang berguna.
Rumusan 5 (Colleman, dalam Thomson & Rudolph, 1983) Bimbingan dan Konseling bertujuan :
1.      Memberikan dukungan
2.      Memberikan wawasan, pandangan, pemahaman, keterampilan dan alternatif baru.
3.      Mengatasi permasalahan yang dihadapi.

Rumusan 6 (Thomson & Rudolph, 1983) Bimbingan dan Konseling bertujuan agar klien :
1.      Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor.
2.      Mengadakan perubahan tingkah laku secara positf.
3.      Melakukan pemecahan masalah.
4.      Melakukan pengambilan keputusan, pengembangan kesadaran, dan pengembangan penerimaan diri.
5.      Memberikan pengukuhan.
Rumusan 7 (Myers, 1992)
1.      Bertujan membantu individu untuk  memperkembangkan dirinya, dalam arti dalam mengadakan perubahan-perubahan pada diri individu tersebut.
2.3.     Tujuan Bimbingan dan  Konseling
1.      Tujuan Umum
Tujuan pelayanan bimbingan secara umum yaitu  supaya konseli dapat :
(1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang.
(2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
(3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.
(4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

2.       Tujuan Khusus
          Tujuan khusus layanan BK ada 4 yaitu :
A. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:
  1. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
  2. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
  3. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
  4. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
  5. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
  6. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
  7. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
  8. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
  9. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
  10. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
  11. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
B. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :
  1. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
  2. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
  3. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  4. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
  5. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
  6. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
C. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah
  1. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
  2. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
  3. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
  4. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
  5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
  6. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
  7. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
  8. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
  9. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.







BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling tersebut, tampak bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu setiap individu untuk berkembang (mengembangkan) dirinya secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), dengan  berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan,dan status sosialnya), serta sesuai dengan tuntunan positif lingkungannya. Adapun tujuan khususnya layanan bimbingan dan konseling merupakan penjabaran dari tujuan umum layanan bimbingan dan konseling  yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh masing-masing individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannyaa itu. 










DAFTAR PUSTAKA
1. Prayitno dan Amti, Erman.2009.Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta:Rineka Cipta.
2.       Sudrajad, Akhmad.2008/03/14.tujuan bimbingan dan konseling.Http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/14/tujuan-bimbingan-dan-konseling. jumat tanggal 12 September 2014 jam 13:30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar