Senin, 22 September 2014

Makalah Psikologi pendidikan "Ingatan dan Berpikir"



BAB 1
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Ingatan atau sering disebut memory adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Ingatan akan dipelajari lebih mendalam di psikologi dan ilmu saraf. Ingatan juga dipandang sebagai suatu hubungan antara pengalaman dengan masa lampau. Apa yang telah diingat adalah hal yang pernah dialami, pernah dipersepsinya, dan hal tersebut pernah dimasukan kedalam jiwanyadan disimpan kemudian pada suatu waktu kejadian itu ditimbulkan kembali dalam kesadaran.
Mengenai soal berfikir  ini terdapat beberapa pendapat ,diantaranya ada yang menganggap sebagai suatu proses asosiasi saja ;pandangan semacam ini dikemukakan oleh kaum asosiasionist.sedangkan fungsionalist memandang berfikir sebagai suatu proses penguatan hubungan antara stimulus dan respon .diantaranya ada yang mengemukakan bahwa berfikir merupakan suatu  kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara dua objek atau lebih.secara sederhana, berfikir adalah memproses informasi secara mental atau secara kognitif.
1.2  Tujuan
Setelah mempelajari mengenai ingatan dan berfikir ini, kita semua diharapkan dapat memahami cara dan pola berfikir masing-masing individu yang memiliki perbedaan. Serta keduanya memiliki keterkaitan dan tak bisa dipisahkan(saling berhubungan). Serta tau apa itu ingatan ? apa yang dimaksud dengan berfikir ? serta dapat membedakan keduannya.



1.3 Indikator
A. Apa yang di maksud dengan pengertian Ingatan.
B. Apa yang di maksud dengan pengertian Berfikir.
C. Macam-macam ingatan,proses pembentukan ingatan dan fungsi ingatan.
D. Jenis, tipe, pola, dan proses berfikir.














BAB II
Pembahasan 1
2.I Pengertian Ingatan
            Secara teori  dapat kita bedakan adanya tiga aspek dalam berfungsinya ingatan yaitu :
a.   Mencamkan, yaitu menerima kesan-kesan
b.   Menyimpan kesan-kesan
c.   Mereproduksi kesan-kesan
Jadi definisi ingatan adalah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan.
ü  Sifat-sifat ingatan :
a.  Ingatan cepat, mudah dalam mencamkan sesuatu hal tanpa menjumpai kesukaran
b.  Ingatan setia, apa yang telah diterima akan disimpan sebaik-baiknya, tak berubah, tetap cocok dengan waktu menerimanya.
c.  Ingatan teguh, dapat menyimpan kesan dalam waktu yang lama, tidak mudah lupa.
d.   Ingatan luas, dapat menyimpan banyak kesan-kesan.
e.   Ingatan siap, mudah dapat memproduuksi kesan yang telah disimpannya.

2.2 Mencamkan

ü  Dibedakan menjadi dua yaitu :
a.  Sekehendak, artinya mencamkan dengan disengaja dan dikehehndaki, dengan sadar  sungguh-sungguh mencamkan sesuatu. Aktifitas ini biasanya disebut menghafal.
b.  Tidak sekehendak, artinya tidak dikehendaki, tidak disengaja, memperoleh sesuatu pengetahuan.


ü  Hal-hal yang membantu dalam pencaman :
a.  Menyuarakan pencaman. Pencaman bahan akan lebih berhasil apabiala berhasil apabila individu tidak saja membaca bahan pelajaran, tetapi juga menyuarakan dan mengulang-ulangnya.  
b.  Pembagian waktu belajar yang tepat menambah pencaman, dari pada belajar secara borongan yang sangat tidak baik.
c.  Penggunaan metode belajar yang tepat dapat mempertinggi pencaman. Ada 3 cara metode belajar yaitu :
ü  Metode keseluruhan atau metode G (Ganzlern-methode), yaitu metode menghafal adi awal ssampai akhir dan mengulangnya secara berkali-kali.
ü  Metode bagian atau metode T (Teillernmethode), yaitu metode menghafal sebagian demi sebagian. Masing-masing bagian dihafal secara bertahap.
ü  Metode campuran atau metode V (Vermittelendelern-methode), yaitu metode menghafal bagian-bagian yang sukar terlebih dahulu, selanjutnya dipelajari dengan metode keseluruhan.
 2.3 Menginggat dan Lupa
Meningat dan lupa biasanya juga ditunjukkan dengan satu pengertian saja yaitu retesi, karena kedua hal tersebut hanyalah memandang hal yang satu dan sama dari segi yang berlainan. Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan, dan hal yang dilupakan adalah hal yang tidak di ingat.
Interfensi adalah menjadi lebih sukarnya belajar yang disebabkan oleh hambatan bahan yang telah dipelajari lebih dulu (interfensi asosiatif).

2.4 Reproduksi
Reproduksi adalah pengaktifan kembali hal yang telah dicamkan. Ada dua bentuk yaitu :
a.  Meningat kembali (recall)
b.  Mengenal kembali (recognition)


ü  Adapun beda antara recall dan recognition ialah :
a.  Pada mengingat kembali tak ada objek yang dapat dipakai sebagai tumpuan dalam melakukan reproduksi itu, misal kehilangan sepeda lalu ditanya cirinya. bagaimana ciri sepeda yang hilang itu ? Disini tanpa pertolongan berusaha untuk mengingat kembali.
b.  Pada mengenal kembali ada suatu yang dapat dipakai sebagai tumpuan dalam melakukan reproduksi itu sebagai objek untuk mencocokkan.

2.5 Asosiasi
Adalah hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lainnya dalam jiwa.
* Hukum asosiasi :
a.  Sama saat atau serentak, beberapa tanggapan yang dialami dalam waktu bersamaan cenderung berasosiasi antara satu dengan yang lain. Misal bentuk dengan bendanya, baunya.
b.  Berurutan, beberapa tanggapan yang dialami berturut-turut, cenderung berasosiasi satu dengan yang lain. Misal kita dengar orang mengucap ABCD, timbul dalam kesadaran kita EFGH dan selanjutnya.
c.  Kesamaan dan kesesuaian, bebrapa tanggapan yang bersesuaian cenderung berasosiasi satu denagn yang lainnya. Misal, kalau kita melihat potret seseorang, lalu teringata akan orangnya.
d.  Berlawanan, tanggapan yang saling berlawanan akan berasosiasi satu dengan      yang lainnya. Misal, kalau kita saksikan mobil mewah yang berluncuran dijalan, maka kita teringat akan para peminta-minta yang berada di emper toko.
e.  Sebab akibat, tanggapan yang mempunyai hubungan sebab akibat. Misal, waktu hujan lebat sekali kita teringat akan banjir.





2.6 Beberapa Catatan Praktis
            Penyelidikan  psikologis tentang ingatan telah cukup banyak dilakukan oleh para ahli, dan hasilnya banyak yang langsung bersangkut-paut dengan soal belajar. Hasil-hasil yang telah dikemukakan dipergunakan sebaik-baiknya supaya dapat dimanfaatkan secara maksimal.
v Pada waktu menghafal hendaklah diatur, sehingga dapat mencapai hasil maksimal.
v Mereproduksi dapat diperlancar dengan memperkaya atau menyempurnakan bahasa.
v Menginggat dapat diaturlah diatur waktu-waktu untuk belajar sebaik mungkin, sehingga hal-hal yang dipelajari dapat tertanam sebaik-baiknya.
v Setiap individu memiliki kemampuan menginggat yang berbeda-beda, tetapi setiap individu dapat meningkatkan kemampuan menginggatnya dengan pengaturan kondisi yang lebih baik dan menggunakan metode yang tepat.










Pembahasan 2
2.7 Pengertian Berfikir
Berfikir adalah kelangsungan tanggapan dimana subjek yang berfikir pasif.  Menurut plato berfikir adalah berbicara dalam hati. (berfikir adalah aktivitas adeasional). pada pendapat ini dikemukakan dua kenyataan :
a.  Berfikir adalah aktivitas, jadi subjek yang berfikir aktif.
b.  Bahwa aktifitas itu sifatnya ideasional, jadi bukan sensoris dan bukan motoris, walaupun disertai oleh kedua hal itu, berfikir itu menggunakan abstraksi atau “ideas”. Berfikir adalah meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan kita (Bigot. dkk., 1950).
Berfikir adalah proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalan.

2.8 Proses Berpikir
          Proses atau jalannya berpikir itu dibagi menjadi 3 yaitu :
A.      Pembentukan pengertian
Pengertian logis dibentuk melalui empat tingkat yaitu :
v  Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Objek tersebut kita perhatikan satu demi satu. Misal membentuk pengertian manusia, kita menganalisis berdasarkan cirri-cirinya.
v  Membandingkan ciri tersebut untuk menemukan ciri yang sama, dan yang tidak sama.
v  Mengabstrasikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri yang tidak hakiki, menangkap ciri yang hakiki.
B.      Pembentukan pendapat
Adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Subjek adalah pengertian yang diterangkan, sedangkan predikat adalah pengertian yang menerangkan. Misal rumah itu baru, rumah (subjek), baru (predikat). Pendapat dibedakan menjadi tiga :
v  Pendapat afirmatif/positif , yaitu pendapat yang mengayakan, yang secara tegas menyatakan sesuatu. Misal si totok pandai.
v  Pendapat negative, yaitu pendapat yang menidakkan, secara tegas menerangkan tidak adanya sesuatu sifat pada suatu hal. Misal si totok tidak bodoh.
v  Pendapat modalitas/kebarangkalian, yaitu pendapat yang menerangkan kebarangkalian, kemungkinan sifat pada suatu hal. Misal hari ini mungkin hujan.
C.       Penarikan kesimpulan atau pembuatan keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam keputusan yaitu :
v  Keputusan indukatif, yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapt khusus menuju ke satu pendapat umum.
v  Keputusan dedukatif, yaitu keputusan yang ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus.
v  Keputusan analogis, yaitu keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada.

2.10 Beberapa Catatan Praktis
·         Jauh dari sikap ingin mengagung-ngagungkan akal kiranya dapat diterima bahwa pikiran mempunyai kedudukan  yang boleh dikata menentukan. Karena itu kewajiban kita para pendidik mengembangkan aspek-aspek lain daripada anak-anak didik kita untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi perkembangan pola pikir.
·         Bahasa dan pikir adalah demikin erat hubungannya, oleh karena itu perkembanggan bahasa yang baik adalah keharusan yang harus dipenuhi untuk perkembangan pikiran baik.
·         Pengetahuan siap merupakan bakal yang sangat berguna supaya orang dapat berpikir dengan tepat dan cepat.



BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Ingatan adalah kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan. Ada Macam-macam ingatan, proses pembentukan ingatan dan fungsi ingatan yang dimiliki oleh setiap individu memiliki kemampuan menginggat yang berbeda-beda, tetapi setiap individu dapat meningkatkan kemampuan menginggatnya dengan pengaturan kondisi yang lebih baik dan menggunakan metode yang tepat. Berpikir adalah aktivitas abstrak, dengan arah yang ditentukan oleh persoalan yang harus dipecahkan. Ada Jenis, tipe, dan pola berfikir, dan proses berfikir yang dimiliki berbagai individu atau pada masing-masing individu, Jauh dari sikap ingin mengagung-ngagungkan akal kiranya dapat diterima bahwa pikiran mempunyai kedudukan  yang boleh dikata menentukan. Karena itu kewajiban kita para pendidik mengembangkan aspek-aspek lain daripada anak-anak didik kita untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi perkembangan pola pikir pada setiap individu.










                                               Daftar Pustaka
Suryabrata, Sumadi.2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta:Rajawali
Wikipedia.Psikologi Pendidikan. http://id.wikipedia.org/wiki/psikologi_pendidikan.Hari kamis tanggal 5 September 2014 jam 01:30

Minggu, 21 September 2014

Makalah Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Bimbingan dan konseling mempunyai perananan penting yang meliputi banyak aspek kehidupan baik dalam bidang pendidikan, sebagai seorang pengajar/guru BK maupun menjadi seorang konselor dimasyarakat. Dengan adanya bimbingan dan konseling ini maka akan tecipta keserasian antara seorang guru dengan siswa maupun antara seorang konselor dan individu yang dibantunya. Makalah ini dibuat agar berguna bagi umum yang membaca khususnya bagi para calon konselor muda agar tau dasar-dasar tujuan bimbingan dan konseling itu sendiri, agar kelak dapat menjadi guru BK atupun seorang konselor yang pintar, baik dan dapat diandalkan.
2.1 Tujuan
1.      Tau perubahan perkembangan tujuan bimbingan dan konseling dari masa-kemasa ?
2.      Apa tujuan umum bimbingan dan konseling ?
3.      Apa tujuan khusus bimbingan dan konseling ?






BAB II
PEMBAHASAN
2.1.    Definisi Bimbingan Konseling
1.      Definisi Bimbingan
Menurut Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.




2.      Definisi Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101). Sementara Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien.
 3.      Definisi Bimbingan Konseling (BK)
Bimbingan konseling adalah proses pemberian bantuan melalui wawancara konseling oleh konselor kepada konseli yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga konseli dapat memahami dirinya untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk kesejahteraan hidup.
           





2.2 Sejarah Perkembangan Tujuan Bimbingan dan Konseling
Sejalan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling, maka tujuan layanan bimbingan dan konseling punmengalami perubahan, dari yang sederhana menjadi lebih komperhensif. Perkembangan itu dapat dilihat dari beberapa rumusan  kutipan berikut :
Rumusan 1 (Hamrin & Clifford, dalam Jones, 1951) agar individu dapat :
1.      Membuat pilihan-pilihan.
2.      Membuat penyesuaian-penyesuaian.
3.      Membuat interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu.
Rumusan 2 (Broadshow dalam Mc. Daniel, 1956)
1.      Untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan.
Rumusan 3 (Shoben, dalam Bernard Fullmer, 1969)
1.      Rekontruksi budaya sekolah.
Rumusan 4 (Tiedeman, dalalam Bernard Fullmer, 1969)
1.      Membantu orang/individu agar menjadi insan yang berguna.
Rumusan 5 (Colleman, dalam Thomson & Rudolph, 1983) Bimbingan dan Konseling bertujuan :
1.      Memberikan dukungan
2.      Memberikan wawasan, pandangan, pemahaman, keterampilan dan alternatif baru.
3.      Mengatasi permasalahan yang dihadapi.

Rumusan 6 (Thomson & Rudolph, 1983) Bimbingan dan Konseling bertujuan agar klien :
1.      Mengikuti kemauan-kemauan/saran-saran konselor.
2.      Mengadakan perubahan tingkah laku secara positf.
3.      Melakukan pemecahan masalah.
4.      Melakukan pengambilan keputusan, pengembangan kesadaran, dan pengembangan penerimaan diri.
5.      Memberikan pengukuhan.
Rumusan 7 (Myers, 1992)
1.      Bertujan membantu individu untuk  memperkembangkan dirinya, dalam arti dalam mengadakan perubahan-perubahan pada diri individu tersebut.
2.3.     Tujuan Bimbingan dan  Konseling
1.      Tujuan Umum
Tujuan pelayanan bimbingan secara umum yaitu  supaya konseli dapat :
(1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang.
(2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
(3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.
(4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

2.       Tujuan Khusus
          Tujuan khusus layanan BK ada 4 yaitu :
A. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:
  1. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
  2. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
  3. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
  4. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
  5. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
  6. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
  7. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
  8. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
  9. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
  10. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
  11. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
B. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :
  1. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
  2. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
  3. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  4. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
  5. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
  6. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
C. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah
  1. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
  2. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
  3. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
  4. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
  5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
  6. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
  7. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
  8. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
  9. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.







BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling tersebut, tampak bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu setiap individu untuk berkembang (mengembangkan) dirinya secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), dengan  berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan,dan status sosialnya), serta sesuai dengan tuntunan positif lingkungannya. Adapun tujuan khususnya layanan bimbingan dan konseling merupakan penjabaran dari tujuan umum layanan bimbingan dan konseling  yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh masing-masing individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannyaa itu. 










DAFTAR PUSTAKA
1. Prayitno dan Amti, Erman.2009.Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta:Rineka Cipta.
2.       Sudrajad, Akhmad.2008/03/14.tujuan bimbingan dan konseling.Http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/14/tujuan-bimbingan-dan-konseling. jumat tanggal 12 September 2014 jam 13:30.